Keikhlasan
bersedekah yang dilakukan oleh tiga sahabat pada zaman Gubernur Al Makmun
berbuah balasan dengan rezeki berlipat. Bagaimana hal itu bisa terjadi? berikut
kisah lengkapnya.
Di
dalam kitab Tartibul Madarik karya Al Qadhi Iyadh dikisahkan tentang
seorang ahli sedekah yang bernama Al Waqidi. Di mata masyarakat setempat, Al
Wakidi memiliki perhatian yang sangat besar terhadap sesama sekalipun
sebenarnya Al Waqidi sendiri hidup dalam kesederhanaan. Bahkan tidak jarang ia
merasa kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari bersama keluarga.
Itu sebabnya Al Waqidi juga
mendapatkan perhatian yang sangat besar dari teman-temannya yang lain. Di
antara temannya adalah bernama Al Hasyimi. Keduanya sangat akrab dan saling memahami
satu sama lain.
Suatu ketika, Al Waqidi mendapatkan
kesulitan yang luar biasa saat dirinya merasakan masa-masa paceklik. Padahal
saat itu sudah mendekati hari raya Idul Fitri. Meskipun demikian, ia merasa
senang karena istrinya termasuk seorang yang sangat sabar dan memahami
kondisinya.
“Kita masih bisa bersabar menghadapi
kesulitan dan kesengsaraan ini, namun anak-anak kita, hatiku merasa teriris
karena kasihan kepada mereka. Mereka melihat anak-anak tetangga berhias dan
berpakaian bagus di hari raya, sementara anak-anak kita masih tetap dengan
pakaian usang mereka,” kata istrinya.
“Sekiranya engkau bisa mengusahakan
sesuatu sehingga kita bisa membelikan mereka pakaian yang pantas,” imbuh
istrinya lagi.
Membantu Teman
Merasa tergugah dengan pernyataan istrinya itu, Al
Waqidi pun langsung menulis surat kepada temannya, Al Hasyimi. Dalam isi surat
itu, ia meminta bantuan Al Hasyimi untuk kebutuhannya. Dalam waktu yang cukup
singkat, Al Hasyimi pun mengirimkan sebuah kantong bersegel untuknya yang
berisi uang seribu dirham.
Namun, sebelum uang itu ia gunakan,
tiba-tiba ia juga mendapatkan surat dari temannya yang lain. Surat yang
diterimanya itu juga berisi keluhan yang sama dengan apa yang ia ungkapkan
kepada Al Hasyimi. Tanpa membuang-buang waktu, kantong bersegel yang berisi
uang seribu dinar dari Al Hasyimi itu pun langsung ia kirimkan kepada temannya.
Setelah uang itu terkirim, Al Waqidi
lantas pergi ke masjid. Ia bermalam di sana karena merasa tidak enak kepada
istrinya yang telah menunggu usahanya. Namun, setelah itu ia kembali pulang dan
menyampaikan kepada istrinya apa yang telah terjadi. Perasaan senang pun
menghias hatinya saat istri tercintanya itu ternyata menganggap baik apa yang
telah terjadi. Perasaan senang pun menghias hatinya saat istri tercintanya itu
ternyata menganggap baik apa yang telah ia lakukan dan tidak menyalahkannya.
Beberapa saat setelah kejadian itu,
tiba-tiba datanglah Al Hasyimi, teman Al Waqidi yang telah membantu dirinya. Ia
datang dengan membawa satu kantong berisi seribu dirham dan menunjukkan
kepadanya.
“Katakanlah kepadaku dengan jujur,
apa yang engkau lakukan terhadap uang yang telah aku kirim kepadamu?” tanya Al
Hasyimi.
Hadiah dari Gubernur
Dengan perasaan terheran-heran, Al Waqidi pun
menjelaskan bahwa uang dari Al Hasyimi telah disedekahkan kepada seorang
temanya yang tengah membutuhkan bantuan.
“Engkau mengirim surat kepadaku meminta bantuanku. Aku
tidak mempunyai sesuatu pun, selain apa yang aku kirim kepadamu. Dan, aku
menulis surat kepada teman kita untuk meminta bantuan, maka ia pun mengirimkan
kantongku ini masih dengan segelnya,” jelas Al Hasyimi lagi.
Tak lama kemudian, uang yang seribu dirham tersebut
lalu dibagi menjadi tiga dan mereka menggunakannya secara bersama-sama. Berita
itupun akhirnya sampai kepada Gubernur Al Makmun yang saat itu menjadi pemimpin
orang muslim. Al Makmun memanggil ketiganya dan memberikan uang sebesar 7000
dirham. Masing-masing dari tiga sahabat itu mendapatkan 2000 dirham, sementara
1000 dirham diberikan kepada istri Al Waqidi. Al Waqidi telah mendapatkan
rezeki yang berlipat-lipat karena sedekah yang dilakukannya.
Sumber: Majalah Kisah Hikmah, edisi Minggu I-II November 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar